Thursday, September 23, 2010

How Do You React?

The MSDS training was successfully done yesterday and I was invited by my Supervisor to attend the Health, Safety, Security and Environment (HSSE) Committee meeting today. And I do believe everyone can guess what does this meeting all about.

The 90/10 Principle

After I've undergo this industrial training for almost four months, I do admit that I've become more outspoken and able to express my feeling or opinion with regards to any matters that arise during any meeting or training. I do believe that there is no right and wrong opinions, it just either it is practicable and applicable to everyone or not. And I still can clearly remember about one thing that my lecturer have mentioned during our PCS class last semester, "Sometimes, we are behaving too Malaysian or too Asean. Whenever we want to say something that is right, but it may hurt others, we do say sorry at the first time before we mention about that particular matter. You don't have to bother yourself about it because whatever is right, then it's right, and whatever that is wrong, then it's wrong". And yes, I strongly agreed with her opinion because I can see that most people are afraid to move on or in the other words, most people are afraid to receive any new opinions or suggestions from new staffs as well as trainees.

Yeah, maybe it sound too harsh but then, it is! I always keep on reminding myself that truth is always hurt and whatever it is, we must able to say the truth. Sometimes, whenever I choose to be silence and stop myself from voice out my view, I can feel that this undefined feeling will always keep on disturb me. In some cases, it keep on bothering me until the next day and it indirectly effect my mood on the next day. That is why, after I attended numbers of training and meeting, I will always try to voice out my opinions no matter the meeting involves the managers or not. And, of course, I need to be prepared mentally and emotionally to receive any types of feedback after that.

I would like to share with you about the 90/10 Principle by Stephen Covey. He said that 90% of the things happen around us is determine on how we react towards it and only 10% of our life is made up of what happens to us. Yeah, in some situations, I strongly agree with him! You know why? Let me share with you a story...
You are having breakfast with your family. Your daughter knocks over a cup of coffee onto your business shirt. You have no control over what has just happened. Isn't it?

You curse her. You harshly scold your daughter for knocking the cup over. She breaks down in tears. After scolding her, you turn to your wife and you criticize her for placing the cup too close to the edge of the table.

And of course, a short verbal battle follows. You storm upstairs and change your shirt. Back downstairs, you find your daughter has been too busy crying to finish her breakfast and getting ready to go to school. She misses the bus. Your spouse must leave immediately for work. You rush to the car and drive your daughter to school. Because you are late, you drive 40 miles per hour in a 30 mph speed limit zone.

After a 15-minute delay and throwing $60.00 traffic fine away, you arrive at school. Your daughter runs into the building without saying goodbye. After arriving at the office 20 minute late, you realize you forgot your briefcase. When you arrive home, you find a small wedge in your relationship with your wife and daughter.

Can you see why all these happened? Is it because of the spilled coffee? Is it because of your daughter? The answer is NO! It is because how you reacted in the morning!


The way we react towards something will determine how's the next thing will happen. That is why, whenever someone criticize you, say something that you might don't feel comfortable about, we have to think carefully on how we should react towards it.

Whatever it is, the way we react somehow will reflects the level of our mindsetting, our brain and the standard of our thinking. We might not realize about this, but people around us will somehow judge us through the way we react. That is why, some people do judge a book by its cover~! Remember, the outer part is the reflection of the inner. If someone is good inside, is there any point for him or her to look bad outside? Yeah, this question might not applicable all the times, but I believe it is perfectly right for most of the times.

~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Wednesday, September 22, 2010

The Seven Group~

Bismillahhirrahmannirrahim...

We are almost in the middle of Syawal but I haven't started my Puasa 6 yet. Currently, I am preparing myself for Material Safety Data Sheet (MSDS) training this evening. This is the time where Proffessional Communication Skills (PCS) course need to be implemented in real working environment. However, there will be no Ah-Counter, Evaluator, Time-keeper and of course, no lecturer. =D Suddenly, I miss all of my PCS-mates in Group 5 while doing the preparation. It reminds me on how sweet and scary the course was last semester. Hehe~ =D

Feel likes butterfly on my stomach, but I have no choice since this is part of learning as well. Actually, I am not that nervous but of course, whenever we know that we'll deliver a speech or need to speak in front of others, this undefined feeling will suddenly arise inside us. In order to reduce this kind of feeling, let me share with you about one interesting reminder. In Malay ya... =D


~Hopefully I can speak fluently and smoothly~

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, terdapat TUJUH golongan yang akan mendapat perlindungan di hari kiamat. Hari di mana tiada perlindungan selain perlindungan-Nya:

1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang masa hidupnya digunakan untuk mengabdikan diri kepada Allah.
3. Orang yang hatinya sentiasa terpaut di masjid.
4. Dua orang yang saling menyayangi kerana Allah serta bertemu dan berpisah kerana-Nya.
5. Lelaki yang diajak berbuat maksiat oleh wanita bangsawan lagi cantik, tetapi dia menolak dengan berkata "Saya takutkan Allah".
6. Orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu akan apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya.
7. Orang yang selalu berzikir di kala ianya bersendirian sehingga mengalir air mata.

[Hadis Riwayat Bukhari]

If we look back into ourselves, do we have at least one character among all these seven characters? Renung-renungkan, dan selamat beramal~! =)

p/s: There are few of the staffs of this company start calling me "cikgu" after they were informed about the MSDS training. Hehe~ =D


~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Saturday, September 18, 2010

Bingkisan Syawal~

Bismillahhirrahmannirrahim...

Syukur ke hadrat Illahi kerana akhirnya diri ini punya kesempatan untuk menukilkan sesuatu buat pertama kalinya di bulan Syawal tahun ini. Ternyata pemergian Ramadhan sedikit sebanyak meninggalkan kesan yang agak mendalam buat diri dan semoga berpeluang untuk bertemu lagi dengan bulan penuh barakah itu.

Menjadi kebiasaan, Syawal adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh semua umat Islam, baik yang tua mahupun muda. Keghairahan menyambut Syawal lazimnya turut dipengaruhi oleh faktor-faktor luaran yang lain seperti media massa, media cetak, jualan murah dan pelbagai lagi promosi sehingga kebanyakan umat hari ini lupa untuk mengejar sesuatu yang lebih berharga yakni Lailatul Qadr. Namun, tidak dinafikan masih terdapat lagi golongan yang masih mengharapkan agar diri mereka ditemukan Allah dengan malam penuh rahmat itu.

Pertemuan

Secara lazimnya, selain dapat bertemu dengan saudara mara, ramai di kalangan kita turut mengambil kesempatan Syawal ini untuk bertemu dengan rakan-rakan lama. Di samping bertanya khabar, kebanyakan di kalangan kita mengambil peluang untuk bermaaf-maafan atas segala kesilapan yang pernah dilakukan. Tradisi berkonvoi ke rumah para guru juga merupakan antara aktiviti yang lazim dilakukan oleh remaja dan belia pada hari ini.

Hakikatnya, ini adalah satu perkara yang baik kerana di samping dapat mengeratkan hubungan, ini juga merupakan simbolik kepada penghormatan kita selaku insan yang pernah bergelar pelajar kepada para guru yang pernah mendidik kita pada suatu ketika. Namun, adalah sesuatu yang lebih bermakna seandainya kita selaku bekas pelajar yang pastinya pernah dididik dengan ilmu agama masih lagi mengekalkan identiti dan nilai-nilai murni sebagai seorang umat Islam tidak kira di mana jua kita berada.

Suatu Realiti

Terlalu sukar rasanya untuk menerima realiti hari ini di mana perkara zina atau kata lainnya mengadakan hubungan seks di luar perkahwinan seolah-olah menjadi satu adat dan tradisi di kalangan para remaja hari ini. Kebanyakan berita di kebanyakan akhbar-akhbar tempatan hari ini menghidangkan kisah yang pastinya mampu merenggut hati dan jiwa para ibu bapa. Dan saya yakin, mereka yang bergelar guru tidak terlepas dari rasa resah dan turut berdoa agar anak-anak didik mereka terkecuali dari gejala yang tidak sihat ini.

Selain didikan ataupun tunjuk ajar yang berterusan daripada ibu bapa, saya percaya hubungan yang erat dengan Pencipta merupakan antara formula terbaik dalam usaha mencegah penyakit yang kian membarah dalam masyarakat kita pada hari ini. Sebagaimana yang dijanjikan-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 21, ketaqwaan itu akan lahir melalui penyembahan ataupun pengabdian diri kita kepada Allah swt. Ketaqwaan inilah yang akan menjadi benteng kepada kita untuk sentiasa mengelakkan dan menjauhkan diri dari melakukan segala larangan-Nya dan melakukan setiap suruhan-Nya.

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa."

Andai sahaja solat 5 waktu sehari semalam pun bisa diabaikan tanpa secebis rasa bersalah, apatah lagi dosa yang lebih besar daripada itu kerana solat itu tiang agama. Apabila disebut sebagai tiang agama, semua orang pasti sedia maklum tiang itulah asas yang penting dalam pembinaan sesebuah rumah kerana andai saja rumah itu tiada tiang, usah diimpikan rumah itu mampu untuk menjadi tempat teduhan yang sempurna. Begitu jugalah kita sebagai seorang umat Islam, andai sahaja solat 5 waktu itu dipandang enteng dan diringankan dengan penuh bersahaja, adakah masih ada benteng yang lebih kukuh daripada itu untuk memelihara diri kita?

Yusulf Al-Qaradawi dalam bukunya Islam An Introduction ada memetik kata-kata daripada kitab Tafsir al-Manar yang berbunyi "Obedience to God and His messengers are necessary in order to achieve happiness in this world." Dan saya percaya, seawal di zaman kanak-kanak lagi kita telah diasuh dan diajar dengan rukun Iman dan rukun Islam, dan kewajipan solat itu terletak pada rukun Islam yang kedua. Di manakah nilai Islam dalam diri kita seandainya solat 5 waktu itu diringankan dengan sewenang-wenangnya?

Tinggal Kenangan

Suatu ketika dulu, kerana adanya peraturan sekolah, hampir kesemua di kalangan kita begitu rajin menunaikan segala kewajipan kita selaku khalifah di bumi Allah ini. Suatu ketika dahulu, di kala sore, kita serikan petang kita dengan bacaan Al-Quran. Suatu ketika dulu, kerana adanya mata pelajaran Pendidikan Islam, di samping dengan adanya pemantauan oleh mereka yang bergelar ustaz dan ustazah, kita berusaha menjaga aurat kita. Dan kini, kita telah dewasa, masing-masing berjalan sendiri di atas bumi ini berbekalkan segala ilmu dan iman di dada masing-masing.

Penutup

Hidayah itu milik yang mencari. Percayalah, Allah takkan menghampakan hamba-Nya yang senantiasa berusaha untuk menjadi hamba-Nya yang terbaik. Sebagai insan yang masih bergelar pelajar, pastinya kita sentiasa berusaha untuk mengejar Dean's List dalam peperiksaan setiap semester. Namun, jangan kita lupa, mengejar Deen's List juga adalah satu tanggungjawab kita yang berterusan sampai bila-bila, kerana kita adalah umatNya yang telah bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.

Semoga Ramadhan yang telah berlalu menjadi satu madrasah terbaik untuk kita mencari identiti diri yang mungkin telah hilang pada hari-hari sebelumnya. Semoga tarbiyah Ramadhan yang telah kita terima menjadi satu benteng yang kukuh agar kita senantiasa berusaha menjadi hamba Rabbani. Di kesempatan ini juga, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri, Maaf Zahir dan Batin...




~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Friday, August 27, 2010

Sharing: Along The Road~

As I driving along the road on my way to the terminal, a woman sitting while holding her baby at the bus station caught my attention. It reminds me to one of the most popular authors in Malaysia about his life principle, “Erti Hidup Pada Memberi”. Out of sudden, my tears feel like to burst since it reminds me to my parent, especially my mother.

Today’s Stories

“Mom, how do you feel during your first pregnancy?” I asked my mother while both of us were sitting on the dining chair after we finished tidy-up the table after dinner.

“It seems like no word can describe exactly what my feeling during that time are. But one thing I’m pretty sure, I am so excited,” my mom replied, with a shining smile on her face.

I looked outside through the window. Most of the latest news reported in the newspaper disturbed my mind. A mental disorder father slaughter his own son, a drug-addict father pour acids onto his daughter, and many newly born babies disposed into the dustbin by their own mothers seems like a hot topic in the newspaper today.

Instead of proud with materials and technologies development in our country, I am sure most of us still not satisfied with it due to increasing of immoral cases. Setting up baby hatch, enforcement of laws and awareness campaigns about the dangerous of commit adultery seems like not work. Thus, is this the price that we have to pay for a dynamic development in our country nowadays?

“It is the government fault that failed to reduce these cases among the youngsters!” said one of the representatives from the opposition.

“Our education system is not good enough to create awareness among the teenagers so that they will stop themselves from involve with such immoral activities!” said another.

“We should include sex education in our education system!” proposed by one of the ministers.

“Instead of just bring the mother to the court, we also need to find the father by conducting a DNA test!” added by the others.

Most of the solutions proposed are just to punish the committers. Most of the comments given seem like to blame each others. No proper meeting. No consent agreement from all parties. Everyone wants to speak out their views. Everybody wants to say that they are the heroes. No one wants to listen. As a result, the numbers of immoral cases keep on rising from day to day. After all, most of these people just speak for their own political essence. And after sometimes, this matter will no longer been discussed. After few months, all these cases are considered as successfully solved!

Give More, Take Less

We cannot wait for the government to settle down this problem. It’s our responsible too. Who are the committers? They are among our community. We are closer to them. Do as much as we can. Be close to them so they will close to us. Treat them as how you want them to treat you. That is the golden rules of life.

Some of my friends did tell me that lack of religion knowledge is the root cause of this problem. Yes, I did admit that. We can see that most of us today are quite busy with our own business. You go along with your own way, I with my own way. Or maybe, no money no talk! As easy as that!

As long as you perform your five times daily prayer, fasting during the month of Ramadhan, that is good enough. Do your work with all your heart. At the end of the month, get your salary. That’s it. Is that the only purpose Allah create us to live in His world?

When someone ask us to do them a favour, we’ll think twice or maybe triple before we agree to do so. When someone asked us do we want to have extra money, we will nod our head immediately. Today’s life has been conquered by “ringgits” and “cents”. In the other words, the purpose of life today is for monetary factors. No more love. No more attentions. No more kindness. It’s all about money. It’s all about positions.

“We live to give as much as we can. Not to take as much as we want to.”

This is one of the most popular quotes that I heard from my favourite radio station, ikim.fm. In addition to that, they did mention that this is one of the sources of happiness. And I also do believe that, to preach is easier than to do. But, we still can make our effort to practice this in our daily life.

Be Optimist

“How do I can help them if I am also not that good?”

I do believe that this question always trigger our mind whenever we do have an intention to help those unfortunate people. Lack of knowledge, do not know what exactly to advice, fear of the same thing might happen to ourselves, they might replied us that we’re not in their shoes, are some of the obstacles that we have to face.

My dear, this is the real world. Everything that we do, we have to face what do we called as problems. And it is depend on us either we want to overcome the obstacles or to be the slaves of it. If we choose the second option, we’ll never do anything at last!

From one of the books written by Steve Chandler, he did mentioned that the optimist always does a little something. She or he always takes an action and always feels like progress is being made. Let us be the optimist one! =)

Conclusion

I finally arrived at the terminal at 8.21 am. I still clearly remember the woman sitting at the bus station holding her baby with a face full with loves. I believe that she’s waiting for the bus with patient and without any mumbles. I always pray that Allah will grant me with strength and to always fill my heart with loves, cares and respects eternally.



~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Wednesday, August 18, 2010

Sharing: Kisah Ramadhan~

Alhamdulillah... Setinggi-tinggi kesyukuran dirafakkan ke hadrat Illahi kerana memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan sekali lagi... Saya teringat akan satu sabda baginda Rasulullah saw yang pernah saya dengar melalui siaran ikim.fm ketika dalam perjalanan pulang dari terminal,

"Seandainya saja umatku mengetahui keistimewaan Ramadhan, sudah pasti mereka mengharapkan sepanjang tahun mereka adalah bulan Ramadhan..."

Daripada sabda itu, sudah pasti terlalu banyak keistimewaan Ramadhan sehingga Rasulullah saw turut menyatakan demikian. Dan sudah pasti, seharusnya kita sebagai insan yang mengaku umat baginda perlu berusaha merebut segala peluang dan anugerah yang telah Allah sediakan buat hamba-Nya sepanjang bulan Ramadhan ini.

Mencari Ibrah

Ramadhan ini hakikatnya mempunyai fasa tersendiri. Bermula dengan sepuluh hari yang pertama, yakni fasa RAHMAT, diikuti sepuluh hari yang kedua, kita diberikan satu fasa yang dinamakan PENGAMPUNAN dan sepuluh hari yang terakhir dinamakan fasa PELEPASAN DOSA. Subhanallah... Sungguh pemurah Pencipta kita, tatkala kita yang mengaku hamba-Nya terkadang terlepas pandang akan segala kewajipan yang telah diperintahkan, Dia masih lagi mahu menyediakan kepada kita satu jalan pulang. Jalan pulang untuk menuju kepada-Nya dalam keadaan sebersih-bersih insan, bersih dari segala detik-detik kelam yang menggelapkan hati dan jiwa, yakni dosa.

Pernah suatu ketika, usai pulang dari halaqah bersama seorang sahabat dari Universiti Tun Abdul Razak cawangan Kuching, saya hampir menghamburkan segala kata-kata yang tidak sepatutnya tatkala tempat letak kereta saya diambil oleh pemandu lain secara tiba-tiba. Masakan tidak, hampir 15 minit saya menunggu untuk mendapatkan tempat letak kereta tersebut, dan saya juga telah memberikan signal untuk masuk ke dalam tempat tersebut, seorang pemandu lain yang baru datang terus memotong dan memakirkan kenderaannya di tempat tersebut. Mujur Kak Farhana yang berada di sebelah menyedari perubahan pada air muka saya menawarkan bantuan untuk pergi membelikan barang yang saya hajati, sementara saya menunggu di dalam kereta. Sementara menunggu beliau, saya masih lagi berada di kawasan tersebut untuk mencari tempat letak kereta yang lain di kawasan berdekatan. Dan setelah lima-enam pusingan, akhirnya ada sebuah kereta yang hendak keluar, dan tatkala saya hendak membelok masuk, Kak Farhana telah selesai membelikan barang tersebut. Subhanallah... Di sebalik peristiwa tersebut, rupa-rupanya Allah memberikan peluang untuk kita melakukan secebis kebaikan biarpun hanya dengan memberikan tempat memakirkan kereta untuk orang lain.

Rentetan peristiwa tersebut, saya semakin percaya, Allah mentarbiyah kita dengan pelbagai cara dan melalui pelbagai peristiwa. Andai sahaja saya mengambil keputusan keluar dari kereta dan memarahi pemandu yang mengambil tempat parkir itu, masih terjagakan puasa saya ketika itu? Ataukah, saya mungkin hanya memperoleh sekadar lapar dan dahaga? Sungguh, sangat benarlah bicara-Nya dalam Surah Ali-Imran ayat 142 yang bermaksud,

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar."

Sesungguhnya, PERCAYA dan YAKIN itu memainkan peranan yang sangat penting dalam usaha kita mahu mendasari segala perkara yang kita lakukan dengan Dia yang kita imani. Pernah sekali, saya terperangkap dalam kesesakan yang agak teruk, dan saya seperti hampir putus asa untuk sampai ke terminal sebelum jam 830 pagi. Meskipun begitu, kalimah rabbi yassir wala tua'ssir tidak putus-putus dari bibir saya sepanjang perjalanan. Dan kerana kepercayaan itu, saya akhirnya sampai ke terminal, tepat-tepat pada jam 830 pagi. Ternyata seawal pagi itu, saya telah mendapat satu lagi tarbiyah yang membuatkan saya terfikir, betapa besarnya kuasa PERCAYA dan YAKIN dengan Allah swt. Mungkin selama ini kebanyakan kita cukup terbiasa dengan kata-kata tentang perlunya meletakkan kepercayaan itu, tetapi hakikatnya menyamatkan kepercayaan itu ke dalam hati kita pada setiap waktu dan ketika memerlukan satu usaha yang bukan sedikit. Benarlah, Allah jualah sebaik-baik penolong...

"Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."
[22:60]

Keperluan dan Tujuan

Di kala Ramadhan ini, pasti sahaja kebanyakan kita sedaya upaya berusaha untuk melakukan pelbagai amal kebajikan memandangkan kaifiat Ramadhan yang terlalu besar dan amatlah rugi seandainya Ramadhan itu dibiarkan berlalu begitu sahaja. Dan pastinya lebih indah seandainya segala yang dilakukan itu dapat dikekalkan sehingga bila-bila waima Ramadhan itu telah berakhir kerana kita ini adalah hamba Rabbani, bukan hamba Ramadhani.. Saya agak tertarik dengan perkongsian di Halaqah Sentuhan Qalbu semalam, yang membawakan tajuk 5 Minit Aje. Biarpun tajuknya seolah-olah agak ringan, ternyata kata-kata daripada salah seorang ahli panel rancangan tersebut cukup membuatkan hati saya sangat terkesan.

Kebanyakan kita sentiasa berusaha sehabis mungkin demi untuk melengkapkan segala keperluan, baik yang bersifat peribadi mahupun untuk kepentingan ramai. Saya juga yakin, hampir semua ibu bapa yang bekerja dengan tujuan untuk memenuhi segala keperluan keluarga, lagi-lagi anak mereka. Namun, berapa ramai di kalangan kita yang berusaha untuk memenuhi keperluan kita seiring dengan usaha untuk mencapai tujuan hidup yang utama? Ya, saya sendiri mengakui adakalanya saya terlalu fokus untuk mengejar keperluan untuk hidup sehingga saya terlepas pandang akan tujuan hidup yang sebenar.

Kita selaku insan, lagi-lagi yang sudah bekeluarga seharusnya berusaha untuk menyedarkan anak-anak kita tentang di samping perlunya kita berusaha untuk mencapai kecemerlangan hidup, tujuan utama kita hidup ini haruslah dinyatakan dan dijelaskan kepada mereka. Peruntukkanlah, setidak-tidaknya hanya 5 minit untuk menyuntik satu rasa ke dalam hati-hati yang masih suci ini tentang tujuan utama penciptaan kita di dunia ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Surah Az-Zariyat ayat 56,

 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."



Bagi yang masih belum berkeluarga, berusaha menyelitkan sesuatu yang mungkin boleh menyatakan secara tidak langsung akan kepentingan tujuan di samping keperluan ini dalam perbualan seharian kita adalah salah satu cara untuk membuatkan detik perbualan 5 minit itu menjadi sesuatu yang berharga. Mungkin, sesetengah mereka tidak mengambil sebarang iktibar, atau mungkin juga kita akan ditentang, tetapi kebarangkalian untuk mereka untuk berfikir tentang tujuan itu tetap ada. Kerana Allah ada menyatakan juga dalam Surah Az-Zariyat ayat 55,

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman."

Penutup

Ramadhan kita hari ini cukup mudah. Bagi yang bekerja, adanya bazar Ramadhan memberi satu kemudahan untuk membeli juadah bagi keperluan berbuka puasa. Bagi yang mencari sumber pengisian rohani yang bermanfaat untuk pembangunan jiwa, saluran radio ikim.fm menyediakan pelbagai juadah yang menjadi halwa telinga hampir setiap masa.

Suatu ketika, demi memastikan syiar Islam terus tertegak, mereka tetap berjuang meskipun sedang melaksanakan rukun Islam yang ketiga. Seawal 2 Hijrah, umat Islam telah berjaya mencerminkan kekuatan umat Islam melalui Perang Badar pada 17 Ramadhan. Tentera pimpinan Salahuddin Al-Ayubi berjaya mengusir tentera Salibiyyah dari Baitul Maqdis menerusi Perang Salib pada tahun 648 Hijrah. Tentera Islam pimpinan Sultan Saifuddin Al-Qutuz dari Mesir memenagi Perang Ain Jalut pada tahun 658 Hijrah dan berjaya menawan Kitbuqa Noyen biarpun pelbagai khazanah ilmu dari Baitul Hikmah telah dibuang ke dalam Sungai Furat sehingga airnya bertukar menjadi warna hitam. Tentera Uthmaniah pimpinan Ahmad Mukhtar Basya berjaya mengalahkan tentera Rusia biarpun dengan kekuatan 34 000 tenaga berbanding dengan tenaga pihak lawan sebanyak 740,000 dalam Perang Yakhliz pada tahun 1294 Hijrah.

Mereka di suatu ketika begitu dahagakan air-air syurga sehingga berjaya membawa naik nama Islam dan terus menjadi sebutan pada hari ini biarpun ketika itu sedang melaksanakan ibadah puasa di kala Ramadhan. Di mata mereka sudah tergambar keindahan syurga sehingga mereka buta akan kenikmatan hidup dan habuan dunia.  Mereka menjadikan puasa itu sebagai satu kekuatan, bukan punca kelemahan. Dan kita, di mana kita pada hari ini? Mampukah kita mencipta dan mewarnai satu corak sejarah demi mengukir satu sinar gemilang Islam untuk tatapan generasi kemudian?

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
[33:35]



 

~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Thursday, August 5, 2010

Puisi: Kenape ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Bila rasa nak sesuatu
Siang dan malam dahi bersujud
Tanpa ada rasa letih dan penat
Tapi setelah hajat tercapai
Boleh pulak kita rasa malas nak bersujud
Rasa penat, letih dan malas membuak-buak
Agak-agaknye, kenapa ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Kalau dulu di kampus
Sangat senang nak berpuasa sunat
Tapi...
Selepas dapat kerja dan berkeluarga
Macam-macam pulak alasan kita
Agak-agaknye, kenape ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Masa kecik-kecik dulu
Kita rasa bahagia dengan ibu bapa
Bila dah besar dan berjaya
Nak tunjuk muka setahun sekali pun cukup seksa
Sampai ibu dan bapa menangis terkenangkan kita
Agak-agaknye, kenape ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Masa kita darjah satu, dua dan tiga
Hampir setiap hari Al-Quran dibaca dan dibuka
Tapi sejak dah bergelar teruna dan dara
Hatta nak sentuh pun cukup sukar rasanya
Agak-agaknye, kenape ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Dulu masa hidup susah dan sengsara
Senyuman kita terukir di wajah hampir setiap masa
Tak kira dengan yang miskin ataupun kaya
Tapi bila sudah bergelar orang besar dan ternama
Senyuman kita hanya untuk mereka yang setaraf saja
Agak-agaknye, kenape ye?


Agak-agaknye, kenape ye?
Dulu masa zaman belajar dan menimba ilmu di menara gading
Halaqah dan usrah kita akan hadiri hampir setiap masa
Tapi sejak dah bekerjaya dan mencapai cita-cita
Waima majlis agama dan tazkirah ringkas cuma
Kita langsung tiada masa untuk mendengarnya
Agak-agaknye, kenape ye?

Agak-agaknye, kenape ye?
Masa dulu kita mampu berkorban demi dakwah dan agama
Tapi bila kita dah mula berjaya
Satu-persatu kita lupa
Kita tak ingat bahawa semuanya adalah nikmat dari Yang Esa
Kita alpa bahawa semuanya adalah limpahan kurnia-Nya
Kita lalai dari jalan yang sebenarnya
Kita jauh dari Pencipta kita
Agak-agaknye, kenape ye?

2.30 pm
05 Ogos 2010
Theme song: Mutiara Hati (Ingatlah Allah)

~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~

Monday, August 2, 2010

Sharing: Satu Rindu~

Sedar tak sedar, bulan Ogos telah membuka tirainya. Begitu juga, tanpa disedari, Syaaban sudah hampir melabuhkan tirainya, dan pastinya Ramadhan bakal kunjung tiba. Dengan rasa hati yang mungkin agak excited, kerana sejak dari usia 13 tahun, inilah kali pertama saya bakal menyambut Ramadhan selama sebulan penuh di sisi keluarga tersayang.

Di sisi keluarga yang punyai talian darah, saya turut berasa rindu dengan keluarga yang pasti punyai talian akidah dan fikrah. Sungguh, di celah-celah kesibukan menjalani latihan industri di sini, tipu kiranya andai saya katakan rasa rindu itu tiada. Mendengar lagu dendangan UNIC yang bertajuk Kau Kawan, Sahabat dan Teman adakalanya membuatkan air mata saya menitik sendiri, jatuh ke pipi tanpa saya sedar. Sungguh, saya rindu! Dan kerana rindu itu, saya tahu saya perlu kuat, meyakini sepenuh hati bahawa ini adalah satu tarbiyah, bahawa kita takkan kekal selamanya berda di "comfort zone". Mujurlah, peluang untuk berhalaqah bersama Dr Sadiah adalah satu peluang untuk saya membina satu lagi jalinan ukhuwah, melepaskan satu rindu yang sudah lama terpendam.

Beriftar bersama para sahabat di UTP pastinya satu kenangan yang akan mendidik saya untuk lebih menghargai teman-teman seperjuangan di sisi. Mungkin semasa menjalani latihan industri inilah, saya akan diberikan satu ibrah, agar belajar untuk mengungkapkan dan memaknakan sebenar-benarnya istilah "ukhuwah fillah".



Semoga rindu yang sentiasa terasa di sanubari ini menjadi satu inspirasi buat saya, agar lebih memaknakan satu jalinan yang dinamakan ukhuwah, menghargai mereka yang bernama sahabat, dan menyayangi mereka kerana dasar fillah.


~berdoa dan terus mengharapkan redha Illahi...~